
Tiba di Medan
20 September 2010, jadi hari pertama aku menginjakan kaki di kota Medan, tepatnya di Bandara Polonia. Rasanya tidak jauh berbeda dengan saat turun di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Syawwal tahun yang lalu. Hanya saat tiba di Medan, badan rasanya lebih penat karena perjalanan dari Bandara Adi Sucipto, Jogja ke Medan empat kali lebih lama dibanding ke Banjarbaru, dari Jogja jam tujuh pagi, sampai Medan jam setengeh dua belas siang. Belum lagi saat penerbangan Jogja-Jakarta aku sempat mabok dulu. He... Maklum, lagi hamil. Alhamdulillah ada air sickness bag yang biasa aku kumpulkan waktu naik Mandala dari Banjarbaru ke Jogja. Kebetulan waktu naik Lion ke Jakarta, ga ada air sickness bag. Masalahnya, waktu mau mabok tanda-tandanya baru muncul beberapa menit saja sebelum isi perut keluar, jadi khawatir ga sempat minta kantong ke pramugara.
Karena memang belum makan nasi dan cuma makan jeruk, setelah muntah perutku rasanya keroncongan banget. Badan lemes, padahal barang kami yang dibawa ke kabin cukup banyak. Akhirnya, sesampainya di Jakarta, aku minta suamiki belikan roti. Waktu itu jam setengah sembilan, dan jadwal take off pesawat Jakarta-Medan juga setengah sembilan. Calon penumpang sudah diminta naik ke pesawat. Satu persatu orang di ruang tunggu mulai naik ke pesawat, hingga petugas penjaga pintu masuk ke pesawat berteriak, "ke Medan, sudah habis??!". Haduuh, suamiku belum kelihatan batang hidungnya. Aku mulai panik. Ada seorang ibu menyadari kepanikanku mulai bertanya, "Ke Medan?". "Iya, Bu, masih nunggu suami". "Aduh, mana suaminya, sudah mau berangkat pesawatnya. Panggil aja petugasnya dulu, suruh tunggu. Nanti kalian ditinggal". Lalu aku panggil petugas penjaga pintu agar menunggu beberapa saat lagi. Dari jauh, suamiku terlihat berlari kecil sambil membawa kantong kecil. Aduh, kasihannya suamiku... Kami langsung bergegas menuju pesawat. Ternyata di bibir pintu pesawat calon penumpang masih antri masuk. Hwaah, ternyata...
Beberapa saat kemudian, kami sudah duduk manis di kursi penumpang. Belum lagi pesawat takeoff, aku sudah minta makan roti. Hmmm, roti, isi vla coklat tebal. Rasanya enak, manisnya coklat campur gurihnya roti. Tapi baru aku makan setengah, lambungku rasanya sudah penuh. Pesawat sudah mulai jalan untuk segera takeoff. Aku sudah menyerah untuk menghabiskan roti saat itu. Aku minta suamiku menghabiskan. Dasar lapar, sekejap saja suamiku langsung menghabiskannya. Pesawat takeoff, dan sepanjang perjalanan kami tidur pulas setelah suamiku menghabiskan jatah rotinya.
Sekarang sudah sepuluh hari aku di Medan. Tinggal di Rumah Dinas bersama suamiku. Jadi ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu di rumah. Bangun pagi, memasak untuk suami, mencuci baju, membereskan rumah, menunggu suami pulang. Begitulah aktifitasku beberapa hari terakhir ini. Tidak lagi pergi ke kantor tiap pagi, membuat laporan mingguan tiap awal pekan, membuat laporan, ikut pemeriksaan setempat, cari dokumen ini, itu, belum lagi pusing kalau pekerjaanku belum selesai atau ada kesalahan, padahal atasan sudah minta jadi. Meskipun begitu, ternyata jadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan ringan lho. Kadang saat suami pulang istirahat siang, aku baru selesai masak. Padahal sejak suamiku pergi, aku sudah mulai beres-beres rumah. Karena ini memang tanggungjawab sebagai seorang istri, dan karena memang pilihanku sendiri untuk resign dari pekerjaanku, semuanya terasa menyenangkan. Memang tanggungjawab atas kepemimpinanku di rumah suamiku inilah yang akan diminta pertanggungjawabannya kelak di hari kiamat, jadi aku harus belajar bertanggungjawab atasnya. Lagipula memang seorang wanita diperintahkan untuk berada di rumahnya dan tidak keluar berhias seperti berhiasnya oarang-orang jahiliyah dahulu bukan...?
Keputusan untuk keluar dari pekerjaanku memang menuai reaksi negatif dari beberapa orang dekatku, terutama orangtuaku. Aku dianggap mengecewakan dan memutuskan harapan orang tua. Maafkan aku Ayah, Ibu,, baktiku pada kalian tidak bisa aku tunjukan lewat materi atau status sebagai Pegawai Negeri Sipil. Aku berharap bisa selalu mendo'akan kalian, dan membuat kalian bangga dengan cara yang lain. Tetaplah mendo'akanku jadi anak yang berbakti, istri yang berbakti, ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. Semoga Allah mengampuniku, mengampuni kalian, menyayangi kita, menuntun keinginan kita agar selalu tertuju pada kebaikan.
Beruntunglah aku karena suamiku bukan orang yang suka menuntut macam-macam. Meskipun banyak hal yang kacau di rumah, dia tidak pernah marah. Walaupun masakanku rasanya ga karuan, dia selalu menghabiskan makanan terakhir di piring kami berdua. Makanan apa saja yang aku masak dia doyan. Malah aku yang sering kehilangan selera pada masakanku sendiri. He he... inginnya jagung rebus dan kueni terus. Malas makan nasi. Apalagi saat suamiku dinas luar seperti dua hari ini. Biasanya aku makan nasi karena suamiku makan. Sekarang ga ada suamiku, aku jadi perlu memaksakan diri untuk makan. Kasihan si dede' kalau ga dapat asupan nutrisi. Terimakasih Suamiku. Istrimu ini masih belajar, jadi mohonlah dimaklumi kekurangannya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar